Aku Divonis Menderita Hepatitis C
Minggu, 14 Juni 2009
DENGAN tenaga terakhirku, kukenakan dua lapis selimut, satu selimut tipis, dan satu selimut tebal. Lalu kumasukkan dryer dengan panas maksimum ke dalam selimut. Tapi tetap saja tak ada gunanya. Aku merasa seperti sedang dicampakkan dalam keadaan telanjang bulat ke puncak Mount Everest.
Untunglah malam itu sahabatku, Damar, datang menjenguk ke kos. Ia sangat cemas melihat wajahku yang membiru dan mataku yang sudah tak bisa fokus melihat. Ia langsung meminta tolong kepada penjaga kos untuk mengantarku ke RS Bethesda.

Dua hari dirawat, Mama datang. Di sela-sela kesadaranku yang lemah aku juga melihat betapa banyaknya teman yang menjengukku. Para sahabat, teman-teman kampus, teman-teman geng motor di Malioboro dan Alun-alun Kidul, bahkan dosenku datang melihat keadaanku. Sejuk hati ini mendengar mereka merasa kehilangan.

Mama merawatku dengan sepenuh hati. Bahkan Mama tak marah saat aku menyemburkan muntah yang tak dapat kutahan lagi ke wajah dan tubuhnya. Ia membersihkan semua kekacauan yang kusebabkan dengan sabar. Setiap hari aku dimandikan dan disuapi makan. Kasih sayang seorang ibu baru kali itu betul-betul kurasakan, hingga air mataku berlinang-linang.
     
Setelah beberapa hari dirawat, dokter yang merawatku mengatakan bahwa aku tertular virus Hepatitis C. Aku kedinginan karena keracunan, liver yang seharusnya membuang racun-racun dalam tubuh tidak berfungsi.

Betapa terkejutnya aku mendengar vonis mengerikan itu! Bukankah penyakit yang (waktu itu) belum ada obatnya hanya bisa menular melalui hubungan cairan tubuh secara langsung? Saat dokter menjelaskan bahwa penyakit ini hanya menular melalui hubungan seks dan jarum suntik, Mama memandangku dengan aneh. Aku hanya bisa ternganga.

Aku ini masih perawan! Aku juga tak pernah memakai narkoba! Dari mana datangnya virus itu? Percayalah padaku, walaupun suka keluar malam dengan banyak laki-laki, aku ini masih suci!

Mama tak berkomentar apa-apa, hanya shalat tahajud setiap malam mendoakan kesembuhanku. Pernah darah keluar dari hidungnya di tengah malam, menghiasi telekung putihnya dengan bercak-bercak merah. Mama tampak sangat kelelahan lahir dan batin. Maafkan Lia, Mama. Lia tak tahu mengapa bisa sampai tertular penyakit seperti ini.

Selama tiga minggu aku dirawat, menghabiskan botol infus dan obat yang tak terhitung jumlahnya. Syukurlah biaya perawatan yang membengkak dapat ditutupi oleh beasiswaku.
Badanku lunglai selama berbulan-bulan. Aku bahkan merasa asing untuk berjalan, karena lama tak menggunakan kakiku. Berat badanku turun cukup banyak, walaupun tetap saja tergolong obesitas. Yang jelas, semangatkulah yang telah terbang menghilang. (bersambung)


 
< Sebelum