 PEKANBARU— Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polresta Pekanbaru mengamankan pelaku narkotika. Kali ini adalah keponakan dan tante yakni Dm (15) warga Jalan Tiga Sari, Tangkerang Selatan, Bukitraya, yang merupakan siswa kelas satu SMK swasta di Pekanbaru dan tantenya Hs (42) warga Kampung Dalam, Senapelan. Bersama kedua tersangka, petugas menyita satu paket sabu-sabu (SS) siap edar seharga Rp200 ribu.
Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Drs Bambang HS MSI ketika dikonfirmasi Pekanbaru MX melalui Kasat Reserse Narkoba Kompol Yuhanies Chaniago SE MM menerangkan, sebelum mengamankan kedua tersangka, pihaknya mendapatkan informasi ada seorang pelajar mengedarkan sabu-sabu. Menyikapi informasi itu, petugas dengan berbekali ciri-ciri pelaku lalu melakukan penyelidikan ke lapangan.
Dari pengembangan petugas lalu menyamar sebagai pembeli (under cover buy, red). Hasilnya, tersangka yang masih berstatus pelajar itu menjanjikan transaksi tak jauh dari rumahnya. Saat menjual barang haram itu pada Senin (13/12) sekitar pukul 15.30 WIB, tersangka masih menggunakan seragam sekolah langsung disergap. Namun ketika ditangkap, anak pertama dari empat bersaudara itu sempat meneriaki petugas sebagai perampok.
‘’Untungnya, situasi di daerah tersebut sepi, kalau tidak tentu masyarakat bisa salah paham,’’ ungkap mantan dosen pengasuh Akpol itu, Selasa (14/12). Seketika itu juga, petugas lalu melakukan penggeledahan dan di dompetnya ditemukan satu paket SS seharga Rp200 ribu. Dari tersangka, petugas lalu melakukan pengembangan.
Hasilnya sekitar pukul 18.00 WIB, tante tersangka berinisial Hs (42) disergap petugas saat berada di halaman rumah. Tak puas sampai disitu, petugas lalu melakukan pengembangan terhadap bandar besarnya berinisial Jj. Namun sayangnya, sang bandar telah keburu kabur. Dan kini, bandar telah ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO) alias buronan .
‘’Saya Hanya Bantu Teman’’
Dengan tangan diborgol, Dm (15) dan Hs (42) yang merupakan keponakan dan tante, Selasa (14/12) terlihat pasrah saat digiring petugas. Keduanya tetap berusaha menutupi wajahnya dari sorotan dan jepretan kamera wartawan. ‘’Saya bukan pengedar, saya hanya sekedar membantu teman yakni Ozi, yang minta tolong dibelikan sabu,’’ ujar siswa kelas satu salah satu SMK swasta Pekanbaru itu kepada Pekanbaru MX, Selasa (14/12).
Disinggung apakah pernah memakai, dia membantah. ‘’Jujur, saya baru sekali ini membeli dan melihat sabu, dan kalau makai saya juga belum pernah, sumpah,’’ tuturnya. Hal senada juga disampaikan oleh Hs, yang merupakan tante dari Dm. ‘’Saya baru sekali ini, sumpah, Pak, dan saya juga tidak pernah makai,’’ ungkap ibu lima anak itu.
Disinggung kapan pertama mengenal sabu dan mengenal bandar sabu (JJ masih DPO, red), dirinya mengaku seminggu sebelum ketangkap. ‘’Saat itu, saya melihat seseorang membeli dengan Jj di depan rumahnya, sejak itulah saya melihat sabu dan mengenal Jj,’’ tutur IRT yang mengaku berprofesi sebagai pemotong bawang goreng itu.
Dituturkan, dikarenakan anak adiknya ini (Dm, red) terus mendesak minta tolong carikan sabu, makanya saya berusaha menjumpai Jj. ‘’Jj aja, sempat curiga padaku. Sebab, saya tak pernah beli sabu padanya, dan bahkan Jj mengatakan kalau diriku mau ngibusnya (beritahukan pada polisi, red), namun setelah saya pastikan tidak, Jj lalu memberikan sabu sesuai dengan uang yang diberikan keponakanku ,’’ tuturnya, sembari menegaskan tidak ada maksud untuk menghancurkan kehidupan atau mengajar-ajari Dm.
|
|
|