|
Sabtu, 06 November 2010 |
|
Buaya itu mungkin tidak berkelamin. Saya harus meminta maaf sambil tersenyum membaca kisah ini. Kita semua bisa menjadi ‘buaya’. Kita semua bisa menjadi penyelingkuh. Ketika kita kurang memiliki ketahanan terhadap perasaan tidak dicintai. Seperti kalimat yang lain, setiap orang memiliki peluang untuk memberontak ketika ia merasa disewenangi.
Cuma masalahnya, kita sering kesulitan memahami apa yang sedang terjadi. Sehingga, terjadilah pelarian-pelarian yang tak perlu itu.
Jadinya, cinta kupandang sebagai raja dari sebuah perasaan. Maka aku dibutakan olehnya ketika kupilih laki-laki hanya berdasar cinta itu. Aku belum sadar bahwa di zaman yang serba-sulit ini perut tak bakalan kenyang hanya oleh cinta saja.
Panggil aku Vin. Umurku 25 tahun sekarang dan siap-siap menjadi janda. Bekerja di sebuah perusahaan swasta, punya satu anak yang sekarang ikut bapaknya setelah suamiku itu tahu bahwa perkawinan kami tak bakalan bisa dilanjutkan dan ia merasa tak baik jika anakku yang baru usia tiga tahun diasuh oleh bapak tiri.
Padahal sampai sekarang pun aku belum pasti akan bagaimana jika perceraian itu benar-benar terjadi. Dulu memang kami menikah dengan bekal yang tak jelas. Penghasilan suamiku tak menentu. Perangainya ternyata juga tidak menyamankanku. Ia suka berjudi. Ia doyan minum alkohol. Ia ringan tangan sehingga pernah dilemparnya aku dengan botol minumannya.
Kami pernah tinggal ngontrak pada tahun awal perkawinan. Lalu kupilih pulang ke rumah orangtuaku, di samping karena alasan biaya, kerja suamiku juga tidak jelas. Rasanya tak tenteram hidup bersama lelaki seperti dia meski pun kami pasangan suami-isteri.
Sempat orangtuaku memberi kami modal kerja. Alhamdulillah usaha kecil-kecilan itu lancar dan bisa menghidupi kami. Aku pun tak mau tinggal diam. Setelah melahirkan aku melamar kerja di beberapa tempat dan akhirnya diterima di sebuah perusahaan yang kutekuni hingga sekarang.
Setahun lalu ayahku meninggal dunia setelah sakit lama. Sejak itulah perangai buruk suamiku semakin tampak. Mungkin karena ia merasa menjadi satu-satunya lelaki di rumah kami. Tak lagi ada yang ia segani. Ibuku pun belakangan itu mulai sakit-sakitan memikirkan menantunya.
Usaha kecil kami -yang dijalankan suamiku- akhirnya bangkrut tak tertolong antara lain akibat suamiku kambuh berjudi. Ibu sempat shock. Sejak gulung tikarnya usaha itu, praktis suamiku jadi penganggur dan makin tampaklah sifat-sifat aslinya. Ia mudah marah. Kasar. Suka main tangan. Cemburu habis-habisan jika aku telat pulang kerja atau diantar laki-laki lain.(bersambung). =mxAI |