Kisah Korban Penusukan OTK, Berlari Dengan Luka Menganga di Dada
Kamis, 18 Juni 2009
 
Ruangan itu berwarna putih menyilaukan. Sekejap semua tampak transparan. Saat Pekanbaru MX mendekati bagian tengah ruangan, tempat seseorang yang tampak kesulitan bernapas sedang berbaring, tercium samar-samar aroma obat dan anyirnya darah.


Laki-laki yang terbaring di kasur RSUD Arifin Achmad itu bernama Hendri, usianya baru 25 tahun. Di wajahnya masih tergambar rasa kaget dan tak percaya, sebab ia baru saja menjadi korban penusukan oleh seseorang yang tak jelas identitasnya malam sebelumnya.

Hendri baru satu bulan tinggal di Pekanbaru. Pemuda asal Nias ini bekerja sebagai buruh bangunan dengan gaji tak seberapa di sebuah barak di Jalan Garuda Sakti, Panam. Malam itu pria bertubuh tinggi kurus ini berniat melepas lelahnya dengan minum tuak bersama temannya sesama buruh, Horige, di sebuah kedai di Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang, di sebelah PT Indomarco.

Di sanalah ia bertemu dengan dua orang pemuda setempat yang bertanya-tanya tentang dirinya dan Horige. Hendri menyambut acara tanya jawab itu dengan gaya biasa-biasa saja. Apalagi di kedai tuak itu sikap dua pemuda berlogat Sumbar itu bersikap cukup sopan.

‘’Dia tanya-tanya namaku, di mana aku dan Horige tinggal,’’ kisah pemuda yang tinggal di Jalan Sepakat, Panam ini. Kedua pemuda itu kemudian pergi dengan mengendarai sepeda motor. Hendri dan Horige kemudian melanjutkan minumnya. Mereka tidak sampai mabuk sebab hanya punya modal Rp10 ribu untuk menikmati malam.

Sekitar pukul 10 malam mereka pun berjalan kaki pulang kembali ke barak. Saat sampai di Simpang Panam, kedua pria tak dikenal tersebut telah menunggu. Hendri kemudian menyapa dan langsung meninggalkan keduanya, namun Horige masih bicara dengnan mereka. Lalu didengarnya suara stokar oplet bernama Aris Tato, karena badannya bertato, yang berada tak jauh darinya berseru, ‘’Hei, kau dipanggil sama preman-preman itu!’’

Ketika Hendri memutar langkahnya, Horige langsung meminta tolong padanya, karena ia tampak akan dihajar oleh kedua pria itu. ‘’Kau preman di sini ya?’’ tanya mereka bagak. Hendri langsung mencoba menengahi karena takut melihat salah seorang di antaranya memegang pisau. ‘’Jangan Bang, kita kan sama-sama perantauan di sini,’’ bujuknya.

Sekonyong-konyong pria yang lebih kecil, yang sudah memegang sebatang kayu entah dari mana, langsung mengayunkannya keras-keras ke tengkuk Hendri sebanyak dua kali. Hendri pun sempoyongan, sementara Horige langsung mengambil langkah seribu. Belum lepas rasa herannya, pemuda yang bertubuh besar langsung menancapkan pisau yang di bawanya ke dada kanan Hendri.

Tak puas, ia mencabut pisau itu dan menancapkannya kembali ke dada kirinya. Darah langsung muncrat ke mana-mana. Terkejut, Hendri langsung melepaskan diri dan memacu larinya ke arah Jalan Garuda. Ia tak memikirkan apa-apa saat itu, hanya kebingungan dan ingin mendapat pertolongan.

Sepanjang 1 KM ia berlari tersaruk-saruk seraya memegangi dadanya yang terbungkus kaos merah yang sudah koyak-moyak hingga tiba di barak. Dari hidung dan mulutnya mengucur darah, sebab paru-paru kirinya sobek. Selama itu orang-orang hanya menonton tanpa berbuat apa-apa. Setibanya di barak barulah ia dibantu oleh warga dengan membawanya ke IGD RSJ Tampan. Dari sana ia kemudian dirujuk ke RSUD.

Hendri menyebutkan bahwa pemuda yang menusuknya memiliki tinggi badan sepantaran dirinya, agak kurus, berkulit putih. Ia berharap orang tersebut ditangkap dan disuruh mempertanggungjawabkan kejahatannya. Di manakah keadilan jika orang-orang keji semacam itu dibiarkan bebas? =MG5
   
Send to friend
Related articles

Komentar  RSS feed comment
 

 


Menambah Komentar
Nama
E-mail
Judul  
Comment
 
Maksimal Karakter: 600
   Konfirmasi ke E-Mail
   
   

Tidak ada komentar



mXcomment 1.0.9 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Sebelum   Berikut >