Anggota DPRD Dumai Baku Hantam
Rabu, 18 November 2009
 
Baru dilantik sudah memperlihatkan kualitas yang memalukan dan tak patuh dicontoh. Itulah yang dipertontonkan beberapa wakil rakyat di DPRD Kota Dumai, dalam Sidang Paripurna Pelantikan Ketua dan Wakil Ketua DPRD Dumai periode 2009-2014.
Merasa malu atas baku hantam itu, Ketua DPRD Dumai Zainal Effendi terkesan tertutup atas insiden tersebut. Itu terungkap saat dikonfirmasi Pekanbaru MX, melalui telepon selularnya, Selasa (17/11).

‘’Nantilah saya lagi rapat,’’ jawab Zainal dan cepat-cepat mematikan handphone (HP) nya. Hingga berita ini diturunkan, Zainal Effendi belum bisa memberikan keterangan resmi terkait baku hantam antar sesama anggotanya.

Seperti diketahui, peristiwa memalukan itu bermula ketika terjadi kesalahpahaman beberapa anggota DPRD Dumai pada saat paripurna penetapan pimpinan DPRD Dumai hampir selesai.

Usai paripurna, beberapa anggota dewan tersebut sempat terlibat adu mulut yang berujung pada aksi saling dorong, tarik menarik bahkan nyaris adu fisik.

Sejumlah pejabat dan undangan yang hadir sempat ‘terperangah’ tidak menyangka jika kegaduhan tersebut terjadi. Beruntung, kejadian tidak meluas setelah pimpinan dan anggota dewan lainnya dibantu pejabat Pemko dan aparat ikut melerai dan menenangkan suasana.

Kekisruhan terjadi di penghujung sidang paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Dumai Zainal Effendi. Suasana sidang yang awalnya khidmat, kontan berubah menjadi gaduh.

Hadir pada kejadian itu Wali Kota Dumai Zulkifli As, Wakil Wali Kota Dumai dr H Sunaryo dan unsur Muspida Kota Dumai, pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Dumai, pimpinan partai politik, pimpinan organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan berbagai undangan lainnya.

Pantauan Pekanbaru MX, peristiwa tersebut bermula saat interupsi dari dua anggota DPRD dari Fraksi Demokrat Plus, Prapto Sucahyo dan Mahadi. Saat itu pimpinan sidang Zainal Effendi mempersilakan untuk acara pembacaan doa sebelum rapat ditutup.

Dalam interupsinya, Prapto Sucahyo meminta pimpinan dewan yang sudah diambil sumpah dan janjinya untuk segera membentuk Pansus Tata Tertib anggota DPRD Dumai. Karena menurutnya, pengesahan Tata Tertib DPRD Dumai sebelumnya tidak mengacu kepada Peraturan Pemerintah (PP) sebagai bentuk turunan dari Undang-undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD karena belum turun.

Namun, interupsi yang sangat mengejutkan datang dari Mahadi. Pada kesempatan itu dia meminta klarifikasi pernyataan Wakil Ketua DPRD Abdul Kasim (dari PAN) di koran yang dinilai melecehkan Ketua DPW Partai Demokrat Provinsi Riau Zulkifli AS yang juga Wali Kota Dumai. Oleh karena itu dia meminta agar diklarifikasi apalagi Zulkifli As sedang berada di ruang rapat paripurna.

Belum sempat Abdul Kasim menanggapi interupsi tersebut, Hasrizal angkat bicara. Menurutnya, saat ini adalah rapat paripurna yang membahas agenda tunggal tentang pengambilan sumpah dan janji pimpinan. Apalagi dalam rapat paripurna kemarin tidak ada interupsi tentang apa yang disampaikan oleh kedua orang anggota dewan dari Fraksi Demokrat Plus tersebut. Hasrial juga mengungkapkan soal adanya statemen yang dinilai melecehkan, tentunya diselesaikan secara internal di luar agenda paripurna. Bahkan apabila tidak dapat diterima, dia mempersilakan dibawa ke jalur hukum di pengadilan.

Interupsi anggota dewan tidak ditanggapi. Pimpinan sidang kembali melanjutkan untuk pembacaan doa sebagai penutup rapat paripurna. Setelah palu diketuk pertanda usainya rapat paripurna, Abdul Kasim dan Hasrizal datang menghampiri Mahadi dan Prapto Sucahyo yang kebetulan duduk tidak berjauhan.

Kondisi itu menjadikan dua orang Wakil Ketua DPRD Dumai yang baru dilantik, Eko Suharjo dari Demokrat dan Zainal Abidin dari PAN juga menghampiri.

Mereka terlibat dalam pembicaraan. Namun, tak tahu apa yang dibicarakan di tengah kerumunan itu, akhirnya emosi tak terkendali hingga ada yang berupaya mengayunkan tangan untuk memukul dan mengayunkan kaki untuk menendang. Mikrophone di meja pun ada yang terbang terlempar. Anggota dewan yang lain juga maju ke depan dan ada pula yang mencegah. Bahkan salah seorang pegawai protokol sempat memeluk, melindungi salah seorang anggota dewan yang jadi sasaran amarah.
Kondisi ini membuat Kapolresta Dumai, Danlanal dan wali kota turun tangan melerai. Kapolresta ke tengah ruangan dan menghalangi anggota dewan yang maju, ingin ikutan. Ia sempat menolak beberapa orang agar tidak maju. Begitu juga Danlanal, ikut menengahi.***

   
Send to friend
Related articles

Komentar  RSS feed comment
 

 


Menambah Komentar
Nama
E-mail
Judul  
Comment
 
Maksimal Karakter: 600
   Konfirmasi ke E-Mail
   
   

Tidak ada komentar



mXcomment 1.0.9 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Sebelum   Berikut >