|
Rabu, 24 November 2010 |
|
“Uniiiiiiiiiiiii!!! Sebuah sentuhan lembut di keningku, membuat aku terjaga. Kepalaku masih agak pusing. Kubuka sedikit demi sedikit kelopak mata yang terasa agak berat, dan akhirnya aku sudah bisa menangkap objek-objek di sekelilingku. Aku sudah berada di kamar nenek, dan lihatlah, ada nenek dan Etek Lily mengitariku, malah Putri tidur-tiduran di sebelahku. Mereka semua tersenyum bahagia menyambut aku yang baru saja siuman. Ternyata aku cukup lama pingsan. Dan hei, ada seorang lagi yang sedang duduk di sampingku. Mama! |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Selasa, 23 November 2010 |
|
“Nama ambo Dodi, Uni,” ucap bocah itu meralat, namun senyuman masih tak lekang di wajahnya. “Nama Uni siapa?”. Ah, anak ini santun sekali. “Panggil saja Uni Zara ya, Dik,” sahutku sambil menjabat tangannya. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Sabtu, 20 November 2010 |
|
Semilir angin menjelang sore menghembus dari kisi-kisi jendela rumah kayu nenek dengan sejuknya. Segelas teh manis hangat buatan Etek Lily, tanteku, kuteguk dengan perlahan. Tubuhku masih terasa lemas gara-gara hampir seluruh isi lambungku terkuras tadi. Aku sempat muntah-muntah. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Sabtu, 06 November 2010 |
|
Buaya itu mungkin tidak berkelamin. Saya harus meminta maaf sambil tersenyum membaca kisah ini. Kita semua bisa menjadi ‘buaya’. Kita semua bisa menjadi penyelingkuh. Ketika kita kurang memiliki ketahanan terhadap perasaan tidak dicintai. Seperti kalimat yang lain, setiap orang memiliki peluang untuk memberontak ketika ia merasa disewenangi. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
<< Awal < Sebelum 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikut > Akhir >>
|
| Hasil 9 - 12 dari 85 |